Kontak : ( +62 ) 813 2770 0066
Senin - Sabtu : 08.00 - 18.00
Sabtu, 30 Mei 2020

Pengrajin Gula Semut di Tengah Pandemi


Pandemi Covid 19 yang tengah melanda dunia saat ini membuat tatanan dunia kalang kabut. Berbagai bidang terdampak, seperti ekonomi, sosial, agama dan tatanan budaya. Lebaran yang baru saja lewat, yang biasanya di masyarakat desa ramai dengan suasana saling silaturahmi, berkunjung dengan sanak saudara, berjabat tangan saling maaf memaafkan, kali ini tampak lengang. Protokol kesehatan memang mewajibkan untuk jaga jarak dan menghindari kerumunan. Bahkan banyak masjid dan tempat ibadah lainnya yang ditutup. masyarakat di anjukjan untuk tinggal dirumah dan beribadah dirumah. Dari sisi ekonomi, jelas situasi ini memukul dunia usaha.

Namun tidak demikian bagi dunia pertanian. Profesi yang selama ini kurang dilirik ini menunjukan kekuatannya saat pandemi. Misalnya bagi petani penderes gula kelapa, masa masa pandemi ini permintaan gula kelapa sangat tinggi, baik gula cetak maupun gula semut. Ruang kerja bagi penderes juga memungkinkan untuk adanya jaga jarak, karena satu kebun biasanya dideres satu orang.

Adalah  Nasun (40 tahun), salah satu penderes dampingan CV. Agroberdikari yang tinggal di salah satu desa sentra gula kelapa di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas.  Dalam kesehariannya, Nasun menderes 30 pohon kelapa yang dideres 2 kali, pagi dan sore. Pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak berusia 22 tahun. Dia yang menderes kelapa dan isterinya (Karsini) yang memasak nira dirumah.







 

Gula semut yang dihasilkan Nasun dan isterinya ini memang termasuk spesial. Warnanya kuning cerah dan aromanya harum. Ada beberapa hal memang yang membedakan dari petani yang lain, misalnya kedisiplinan waktu menderes (pagi dan sore), proses  memasaknya dilakukan 3 kali sehari, kebersihan peralatan dan tungkunya juga terlihat kinerjanya  bagus. Nira yang dihasilkan juga bening kecoklatan. Nasun menggunakan laru atau pengawet nira organik dari cangkang manggis yang didapat dari pohon manggis yang banyak terdapat di wilayahnya.  Peralatan dan proses  yang dijalankan masih  alami dan tradisional  turun temurun dari orang tuanya. Dalam sehari Nasun mampu menghasilkan 11 kg gula semut. Dari hasil penjualan gula semut tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.

Kendala yang dihadapi petani penderes pada umumnya adalah faktor cuaca. Saat akhir kemarau panjang biasanya banyak tanaman kelapa yang kekeringan dan tidak keluar manggarnya. Seperti tahun lalu, bulan oktober november,  hampir 2 bulan Nasun tidak menderes. Di wilayahnya memang pengairan tanaman kelapa menjadi kendala. Lokasi pegunungan pada saat kemarau sulit untuk mendapatkan air. Tanaman kelapa yang mendapat perawatan dan pemupukan dengan baik sebenarnya bisa tahan lebih baik saat musim kemarau.

Banyak profesi di desa yang mempunyai daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi krisis. Peluang kerja di dunia pertanian juga masih sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang mau tekun menjalani. Memang penguatan disisi budidaya tanaman, produksi, pasar dan tata niaganya masih perlu terus dilakukan agar profesi ini semakin diminati.


Sabtu, 04 April 2020

Gula Semut Jahe dan Rempah

Gula Semut Moyang selain rasa natural, juga ada gula semut Jahe dan Rempah.




Rabu, 01 April 2020

Gula Semut Moyang, Semakin Cantik

Gula semut Moyang sekarang mempunyai kemasan baru. Pemanis alami dan sehat ini memiliki kemasan baru 300 gr dan 100 gr, lebih hieginis, awet dan tampilan yang menarik.







Rabu, 25 Maret 2020

Gula Brondol


Kalau gula semut yang berbentuk serbuk dan menyerupai rumah semut di tanah, barangkali sudah banyak orang yang tahu. Ada lagi yang namanya gula semut brondol. Gula semut brondol  atau gula brondol bentuk butirannya lebih besar dari gula semut pada umumnya. namun mempunyai manfaat yang sama, hanya bentuknya saja yang berbeda.

Dari warnanya memang sedikit lebih gelap, karena kandungan airnya lebih tinggi.
Untuk pemanis minuman, teh. kopi atau susu di gelas, butiran gula brondol cepat larut di dalam air. Beberapa konsumen memakai gula brondol ini untuk kolak dan toping ice cream. Ada juga untuk pembutan jamu dan dawet, karena untuk mandapattkan warga kecoklatan pada makanan/ minuman.

Gula brondol dihasilkan dari proses pengayakan. Saat proses pengayakan dengan mess 18 atau lebih, biasanya akan menyisakan gula semut dengan butiran yang lebih besar. Permintaan gula ini sebenarnya juga cukup tinggi, hanya saja cara membuatnya yang susah. karena rata rata gula semut saat di guser, ketika produksi dipetani, langsung hancur  menjadi mess 18 atau lebih besar lagi. semakin besar messnya, semakin kecil butirannya. Misalnya mess 30, gula semut mess 30 berbentuk hampir seperti tepung. Gula yang diproduksi petani, sekitar 50 % nya terkandung ukuran mess 30.


 





Jumat, 08 November 2019

Asuransi Kerja Bagi Petani Penderes Gula Kelapa

Petani penderes kelapa, setiap hari menderes pohon kelapa 2 kali, yaitu pagi dan sore. Jika  petani menpunyai 30 pohon, maka setiap hari dia harus memanjat 60 pohon. Memanjat pohon kelapa dengan tinggi 7 hingga 15 m sangatlah beresiko. Lengah sedikit saja dapat menimbulkan kecelakaan yang fatal, dari luka berat bahkan sampai meninggal dunia. Untuk itu, Agroberdikari pada hari  Jumat, 8 November 2019, mengadakan sosialisasi BPJS bekerjasama dengan kantor BPJS Ketenaga kerjaan Kebumen.


Adapun manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan ini, meliputi transportasi, biaya pengobatan dn perawatan selama di Runah Sakit, santunan cacat, santunan kematian, biaya rehabilitasi dan bantuan beasiswa.

Pelatihan Petani Gula kelapa Gapoktan Panca Karsa

Kamis, 7 November 2019, suasana Rumah Kayu Agroberdikari cukup ramai. 50 orang petani dari Desa Argopeni Kecamatan Ayah Kebumen mengikuti kegiatan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten kebumen,



Jumat, 01 November 2019

Trade Expo Indonesia (TEI) 2019

Pada Tanggal 16 - 20 Oktober 2019 CV Agroberdikari mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2019  ke - 34 dengan tema ' Moving forward To Serve The World '  yang di buka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di ICE BSD Tangerang. Bagi CV.  Agroberdikari merupakan kegiatan yang ke 2 kalinya, setelah pada Tahun 2018 lalu juga ikut sebagai peserta. Menurut Dirjen Kemdag, Arlinda, TEI ini bertujuan untuk mempromosikan produk nasional yang berkualitas yang di produksi di Indonesia untuk dipasarkan ke pasar global.



Dari kegiatan tersebut, beberapa pembeli secara khusus telah merencanakan untuk mengunjungi prossesing Agroberdikari dan berdiskusi tentang produk gula semut Moyang.


Sabtu, 07 September 2019

Gula Semut, Gula Aren, dan Gula Tebu. Bedanya Apa?

Ada bermacam-macam jenis gula di sekitar kita. Coba tengok ke dapur, ada berapa macam gula yang biasa Sahabat pakai untuk memasak? Masing-masing jenis punya perbedaan dari segi bahan baku dan kegunaannya. Di sini kita akan belajar mengenali perbedaan antara gula semut, gula aren, dan gula tebu.

Ketiga jenis gula memiliki perbedaan dasar pada bahan baku. Gula aren adalah gula yang dihasilkan dari tanaman aren atau palem (palm tree) sehingga sering disebut sebagai palm sugar atau palm suiker. Nira dari tandan bunga pohon aren diproses menjadi pemanis alami melalui proses pemanasan dan pendinginan. Gula aren biasanya dicetak dalam bentuk silinder dan setengah lingkaran.

Bibit kelapa organik

Kamis, 05 September 2019

Pelatihan dan Praktek Pembuatan Tungku Buring

Memasuki hari ke tiga Pelatihan dari Kementerian Perindustrian, bertempat di prosessing Agroberdikari dengan materi  praktek pembuatan tungku hemat dan sehat untuk masak nira model buring. Nama buring diambil karena letak kayu bakarnya miring. Kelebihan tungku ini diantaranya yaitu kayu bakar lebih hemat karena ada proses pemanasan pada kayu sebelum kayu terbakar, nira lebih cepat masak dan dapur lebih sehat karena asap keluar ruang dapur dengan adanya cerobong asap.

Material bahan pembuatannya  terdiri dari semen, pasir, batu bata, genteng 1 buah untuk lobang kayubakar dan cerobong. Batang pisang dibutuhkan untuk mencetak lobang api ditengah tungku.


Selasa, 03 September 2019

Pelatihan Produksi Gula Palma Kementerian Perindustrian

Untuk peningkatan kualitas dan kuantitas gula semut organik ( Organic Coconut Sugar ), Kementerian Perindustrian mengadakan pelatihan produksi dan GMP di pengrajin gula semut organik anggota  ICS Agroberdikari yang tergabung dalam kelompok Nira Sumber Rejeki Desa Wonoharjo dan Kelompok Nira Budi Rahayu Desa Giyanti Kecamatan Rowokele.  Kegiatan yang diadakan dihotel Candisari dari tanggal 3 sampai 6 September 2019 ini di buka oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kebumen, Widiatmoko, SH. MH.




Proses pelatihan yang difasilitasi Perhimpunan Setara Purwokerto dilakukan dengan metode partisipatif dan model pendekatan Pembelajaran Orang Dewasa (POD), menjadikan suasana belajar lebih hidup. Dimana dalam model ini peserta diberikan informasi baru dengan diintegrasikan dengan pengalaman keseharian yang biasa dilakukan. Karakteristik petani gula kelapa yang sibuk berkutat dengan pekerjaan dan urusan rumah tangga memang menjadikan pentingnya model training yang disesuaikan dengan latar belakang peserta. Sehingga maksud dan tujuan pelatihan dapat tercapai.

Hari kedua, Materi GMP difasilitasi oleh Astin Atsna K, SP. MP. dari CV Hugo Inovasi. GMP (Good Manufactoring Product) merupakan syarat dasar untuk menjamin makanan agar layak dan aman dikomsumsi.


 





Dalam kesempatan ini, Kementerian Perindustrian juga memberikan bantuan peralatan untuk membuat gula semut kepada peserta.  Terdiri dari wajan untuk masak nira, pongkor foodgrade, loyang dan peralatan lainnya. Bantuan tersebut bagian dari standarisasi peralatan untuk mendukung pengrajin supaya memproduksi gula organik dan berkualitas.
Minggu, 01 September 2019

KKN Desa Gula Semut

Desa Wonodadi merupakan salah satu desa sentra gula kelapa di kabupaten Kebumen yang terletak di pegunungan karst Gombong Selatan dimana termasuk dalam wilayah Geopark Karangsambung Karangbolong. Dengan kondisi lahan yang berbukit bukit dan tanah yang dibeberapa tempat terdapat bongkahan batu karang  ternyata malah cukup baik untuk tumbuhnya tanaman kelapa. Di desa ini sudah banyak petani yang membuat gula semut. Namun diwilayah atas masih banyak yang belum mengenal gula semut.

Saat ini Agroberdikari, Pemerintah Desa dan Kecamatan Buayan sedang bersama sama mengembangkan gula semut organik diwilayah Desa Wonodadi  sebelah atas. Pada bulan Juli - Agustus, ikut menguatkan program, hadir teman teman mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berbagai kegiatan dilakukan bersama KKN, yaitu sosialisasi program gula semut organik, pelatihan dan praktek membuat gula semut, workshop dan pendampingan dan kunjungan ke petani gula kelapa.

  

Workshop tentang pemberdayaan masyarakat mengundang narasumber Bambang Hariyanto, SE dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kebumen dan Manager Agroberdikari. Dalam sambutannya, Isnaedi, selaku Camat Kecamatan Buayan, menyampaikan bahwa diversifikasi produk dari gula cetak ke gula semut diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pengrajin gula. Setelah workshop selesai, Beliau bersama Kepala Desa Wanadadi melakukan kunjungan ke beberapa petani yang sudah mulai memproduksi gula semut.


Pelatihan dan praktek membuat gula semut organic dipandu oleh tim ICS Agroberdikari dan pengurus BUMDES Margo Mulyo dengan dihadiri oleh Kepala Desa Wonodadi.

 

Kehadirin teman teman KKN ini memang cukup memotivasi warga untuk mengenal dan memproduksi gula semut organic. Waktu KKN yang singkat sekitar 2 bulan, setidaknya menjadi media belajar bersama untuk lebih mengenal dan memahami potensi sumber daya di wilayah Desa Wonodadi.
Kamis, 29 Agustus 2019

Pohon Kelapa Genjah Kebumen


Wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen) dikenal sebagai daerah yang banyak menghasilkan pohon kelapa. Di Kebumen sendiri terdapat ribuan petani yang menggantungkan diri kepada pertanian kelapa, baik diambil buahnya maupun dideres (disadap) untuk diolah menjadi gula merah atau gula kelapa.

Setiap kali petani menderes kelapa, selalu ada risiko keamanan yang membayangi. Tinggi pohon kelapa yang biasa dimiliki petani dan siap dideres adalah sekitar 20 sampai 30 meter. Petani memanjat pohon dengan peralatan sederhana. Jika musim hujan, kesulitan dan risiko yang dihadapi menjadi berkali lipat. Karenanya banyak dikembangkan pohon kelapa varietas unggul yang memiliki sifat-sifat misalnya tinggi pohon tidak lebih dari 3 meter dengan kualitas buah dan nira yang baik.

Hampir semua petani menyebut pohon kelapa varietas unggul sebagai pohon kelapa genjah. Di Kebumen sendiri, petani menyebutnya kelapa genjah entok. Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat telah melakukan pengamatan awal kelapa genjah entok sejak tahun 2001. Pada awal tahun 2019, kelapa genjah entok Kebumen ditetapkan sebagai varietas unggul lokal dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 41/ KPTS/KB.020/2 /2019. Sebagai kabupaten terbesar produksi kelapanya nomor 3 setelah Kabupaten Pandeglang dan Kabupetan Pangandaran, ini merupakan langkah maju. 

Karakteristik spesifik dari kelapa genjah entok Kebumen menurut Kasi Perbenihan dan Perlindungan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten kebumen, Ashari, S.P, yaitu sebagai berikut:

1.       Besar batang relatif sama dari bawah sampai atas
2.       Bentuk anak daun yang kaku (tegak)
3.       Bentuk buah yang bulat dan besar
4.       Daging buah lebih tebal dan warna buah hijau muda pada fase kelapa mud
5.       Tanaman lebih cepat tumbuhnya (usia 3 - 4 tahun sudah mulai berbuah)
6.       Pertambahan tinggi lebih lambat.

Dari sertifikasi yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Palma Manado, ditetapkan 302 Pohon Induk Terpilih (PIT) yang tersebar di Kecamatan Alian, Mirit, Ambal, dan Buayan di Kabupaten Kebumen yang akan diambil sebagai benih kelapa yang tersertifikasi sebagai kelapa genjah entok. Benih kelapa inilah yang nantinya akan dikembangkan dan ditanam dikebun petani atau mungkin  di demplot pembenihan.

Pohon kelapa genjah entok memang cukup banyak buahnya, namun untuk produksi nira sebagai bahan baku pembuat gula masih perlu penelitian lebih lanjut. Riset tanaman kelapa butuh waktu yang panjang karena terkait dengan umur pohon kelapanya sendiri. Dari pembenihan hingga keluar tandan dibutuhkan waktu  4 - 7 tahun. Biasanya produksi nira mendapat hasil maksimal jika usia pohon sudah cukup dewasa. Kalau jenis kelapa dalam usia produktif, rata-rata diatas usia 15 tahun sudah bisa dipanen niranya. Karena itu penelitian dari pembenihan hingga step by step pertumbuhannya harus terus menerus dilakukan setidaknya 10 tahun.


Di Kabupaten lain juga sebenarnya sudah berkembang pohon kelapa genjah entok ini. Namun, bisa jadi tanaman yang dimaksud berbeda dari segi varietas dan karakteristiknya. Seperti apakah pohon kelapa genjah entok di tempat Sahabat?
Jumat, 23 Agustus 2019

Peralatan Membuat Gula Semut

Untuk membuat gula semut di petani dibutuhkan peralatan yang sederhana dan cukup hemat, yaitu,

1. Pisau deres digunakan untuk mengiris manggar
2. Pongkor foodgrade yaitu wadah nira
3. Ayakan Stainlees digunakan untuk membuat butiran butiran kristal gula
4. Saringan Satainlees digunakan untuk menyaring nira saat dituang di wajan
5. Wajan masak nira
6. Kayu untuk mengaduk nira saat dimasak
7. Batok gerusan, digunakan untuk menggerus gula yang mulai mengering menjadi butiran
8. Loyang Alumunium/Stainless digunakan untuk mengeringkan gula semut


1. Gambar Wajan



2. Gambar Batok Gerusan


3. Gambar Loyang


4. Gambar Ayakan


5. Gambar Saringan

6. Pongkor Foodgrade

Minggu, 18 Agustus 2019

Tungku Hemat dan Sehat Petani Gula Kelapa di Desa Kedungwringin

Menderes kelapa  bukan sesuatu yang baru bagi warga Desa Kedungwringin Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen. Meski sekarang sudah jauh berkurang, namun di beberapa grumbul masih dapat ditemui beberapa warga yang masih bertahan menderes kelapa. 

Desa yang terletak di sebelah timur waduk Sempor ini termasuk mempunyai kekayaan alam yang beragam. Dari bertani padi, palawija, menderes getah pinus dan juga kayu kayuan,  Saat musim kemarau biasanya warga menanami tepian waduk dengan tanaman kacang tanah, jagung dan ubi. Peternakan dan perikanan juga cukup bagus. Peternakan meliputi kambing dan sapi. Dari waduk Sempor, warga menangkap ikan dengan pancing dan jala tradisional. Karena itu ketika ditanyakan menderes kelapa merupakan pekerjaan utama atau sampingan, biasanya mereka akan berpikir beberapa saat. Jika disebut utama, tetapi mereka mempunyai pekerjaan lain. namun, jika disebut sampingan, justru dengan menderes kelapa mereka mendapat penghasilan rutin setiap harinya.

Sejak tahun 2016 Agroberdikari melakukan pendampingan pembuatan gula semut organik di desa Kedungwringin. Dengan program ini diharapkan penderes akan termotivasi kembali untuk menekuni menderes kelapa. Beberapa kegiatan dilakukan yaitu pembentukan kelompok pengrajin gula semut organik, pembuatan tungku hemat untuk masak gula dan kedepannya peremajaan tanaman kelapa dengan tanaman kelapa varitas unggul.

Pembuatan tungku hemat dan sehat dipetani gula kelapa di Desa Kedungwringin Sempor ini sudah dilakukan dibeberapa petani penderes seperti Darmono, Rohyadi, Slamet Sudiarjo dan Nuryadin. Model tungku yang dibuat disesuaikan dengan pilihan petani, yang pada prinsipnya dapat menghasilkan pembakaran dan kinerja yang maksimal.  Pembuatannya dilakukan bersama sama oleh anggota kelompok dibantu oleh Tim ICS Agroberdikari.



Dengan menggunakan tungku ini petani penderes merasakan manfaatnya, diantaranya kayu bakar lebih hemat, nira cepat matang dan lebih sehat karena menggunakan cerobong asap keluar ruangan dapur. Ruang dapurpun tampak lebih rapi dan bersih sehingga mendukung higienitas produk, 










Senin, 01 Juli 2019

Training ICS dan HACCP Pengrajin Gula Semut

Industri gula semut memiliki model usaha yang unik. Produksi ditingkat petani gula semut tersebar dirumah masing - masing petani sendiri. Tahapan dari panen nira, dimasak hingga menjadi butir - butir kristal gula semut ada didapur petani. Produksi dilakukan secara tradisional dn manual.

Untuk menimgkatkan pemahaman dn ketrampilan petani, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kebumen bekerjasama dengan Agroberdikari mengadakan pelatihan Internal Control System dan HACCP bagi pengrajin gula semut di beberapa desa di Kabupaten Kebumen. Pelatihan diadakan di Hotel Candisari Karanganyar dari tanggal 27 - 28 Juni 2019.

Dengan pelatihan ini, diharapkan pengrajin gula semut dapat menjaga hieginitas dan keorganikan produk dan menjadikan gula semut bekualitas.




Selasa, 04 Juni 2019

Diskusi Petani Gula Semut dan Buyer

Pada pertemuan GENDIS (Gerakan Pendidikan Petani Gula Semut) bulan Mei yang lalu, hadir sebagai narasumber Bapak Lewi Cuaca, salah satu buyer Agroberdikari yang juga eksportir produk pertanian lainnya. Diskusi dan sharing antara petani dan buyer ini merupakan salah satu program Agroberdikari. Dengan pertemuan pengerajin gula semut dengan buyer eksportir ini diharapkan akan terjalin komunikasi dan saling memahami, dari petani memahami seperti apa kualitas yang diminta oleh pembeli dan pembeli juga mengetahui kendala kendala apa yang dihadapi oleh pengrajin untuk mencapai kualitas tersebut.




Lewi menyampaikan bahwa permintaan dunia akan gula semut terus meningkat, namun kualitas harus ditingkatkan. Saat ini gula semut Indonesia bersaing dengan negara negara tetangga terkait dengan kualitas.  Gula semut premium dengan warna kuning cerah, atau biasa disebut dengan Blonde, semakin diminati. Dalam forum tersebut Lewi juga menyampaikan pentingnya menjaga gula semut dari kontaminasi bahan bahan non organik misalnya kotoran dan obat gula. Untuk itu dapur petani harus tetap hieginis.




Diakhir sessi, Lewi mengajak semua pihak pelaku usaha ini untuk bekerjasama saling berbagi peran agar pasar gula semut dapat terus berkelanjutan.
Kamis, 07 Maret 2019

GENDHIS, Gerakan Pendidikan Petani Gula Semut




Untuk meningkatkan kapasitas petani, agroberdikari menginisiasi program belajar bagi petani dg nama Gerakan Pendidikan Petani Gula Semut (GENDHIS).

Program yang dimulai bulan Januari 2019 ini, tahap ke 1 diikuti oleh 38 petani gula semut Desa Wonodadi dengan waktu pembelajaran setiap bulan sekali selama 1 tahun. Selama 1 tahun tersebut, peserta mendapatkan asisstensi dari tim Pendamping Agroberdikari.

Dalam program ini, beberapa materi yang disampaikan yaitu Pertanian Organik, Tehnik Produksi Gula Semut, Standar Keamanan Pangan, Penjaminan Mutu dengan ICS, Managemen Ekonomi Rumah Tangga dan sebagainya.

Beberapa pegiat gula semut akan menjadi narasumber pelatihan ini dantaranya yaitu Kukuh Haryadi S.P. MM (Pendamping Plut Jateng), Tutu Septiana, Ega Apriliana dan narasumber lain.

Dengan pelatihan tersebut diharapkan petani gula semut mempunyai kemampuan dalam pengelolaan usaha pertanian sehingga dapat meningkatkan produktifitasnya.
Jumat, 01 Maret 2019

Analisis Usaha Tani Penderes Gula Kelapa



Kabupaten Kebumen merupakan salah satu sentra produksi gula kelapa. Kurang lebih sekitar 20 ribu KK bermatapencaharian sebagai penderes kelapa. Produk yang dihasilkan dari tanaman kelapa yaitu berupa nira yang diolah menjadi gula semut maupun gula cetak. Analisis usaha tani merupakan kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Berdasarkan analisis usaha tani, berikut rincian anggaran pemasukan dan pengeluaran seorang penderes dalam melakukan kegiatan usaha gula kelapa;

Tabel 1. Biaya Tetap

Biaya tetap usaha gula kelapa yaitu sebesar Rp. 1.428.500,- (Tabel 1). Biaya tetap adalah biaya yang tidak berbeda seiring dengan adanya perubahan kuantitas pada unit produksi. Biaya tetap tergantung waktu, yaitu tetap konstan dalam suatu periode.  

Tabel 2. Biaya Variabel 

 Biaya variabel usaha gula kelapa yaitu sebesar 8.302.000,- (Tabel 2). Biaya variabel adalah biaya yang bervariasi seiring dengan perubahan pada jumlah unit produksi. Biaya variabel tergantung volume, yaitu berubah dengan adanya perubahan volume dan tetap konstan pada tiap unitnya. 


Tabel 3. Total Biaya 

Total biaya yang dibutuhkan dalam usaha gula kelapa yaitu sebesar Rp.9.730.500,- (Tabel 3). Pemasukan penderes dalam mengolah nira menjadi gula semut dan gula cetak memiliki keuntungan yang sangat berbeda. Setiap bulannya dengan menanam 30 pohon mampu menghasilkan gula sebanyak 225 kg/bulan. Apabila mengolah menjadi gula semut mampu mendapatkan pemasukan Rp. 43.200.000,-, sedangkan apabila diolah menjadi gula cetak mendapat penghasilan sebesar Rp.32.400.000,- dalam kurun waktu selama satu tahun (Tabel 4).
Tabel 4. Pendapatan Penderes 

Revenue cost ratio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Adapun kriteria hasil sebagai berikut:
  • R/C>1, berarti usaha sudah dijalankan dengan efisien ataupun menguntungkan.
  • R/C=1, berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas atau break event point.
  • R/C<1, berarti usaha tidak efisien dan tidak layak serta tidak menguntungkan
Tabel 5. Analisis Penderes Gula Kepala berdasarkan Analisis R/C

Berdasarkan analisis revenue cost ratio bahwa penderes kelapa memiliki nilai >1 yang memiliki nilai usaha yang efisien dan menguntungkan dalam mengolah nira menjadi suatu produk beruapa gula semut maupun gula cetak. Namun memiliki keuntungan yang sangat jauh berbeda, apabila diolah menjadi gula cetak dalam satu tahun dengan jumlah sebanyak 30 pohon yang dideres mampu menghasilkan laba sebesar Rp.22.669.500,-, sedangkan apabila diolah menjadi gula semut mampu menghasilkan laba sebesar Rp.33.469.500,-. Selisih antara gula semut dan gula cetak sangatlah jauh berbeda apabila penderes mengolah menjadi gula semut mampu meraup keuntungan yang lebih dibanding menjadi gula cetak dengan mencapai keuntungan lebih sebesar Rp.10.800.000,- dalam satu tahun produksi.  

Penulis: Ega Apriliana/Research and Development Agroberdikari







Senin, 25 Februari 2019