Kontak : ( +62 ) 813 2770 0066
Senin - Sabtu : 08.00 - 18.00
Kamis, 07 Maret 2019

GENDHIS, Gerakan Pendidikan Petani Gula Semut




Untuk meningkatkan kapasitas petani, agroberdikari menginisiasi program belajar bagi petani dg nama Gerakan Pendidikan Petani Gula Semut (GENDHIS).

Program yang dimulai bulan Januari 2019 ini, tahap ke 1 diikuti oleh 38 petani gula semut Desa Wonodadi dengan waktu pembelajaran setiap bulan sekali selama 1 tahun. Selama 1 tahun tersebut, peserta mendapatkan asisstensi dari tim Pendamping Agroberdikari.

Dalam program ini, beberapa materi yang disampaikan yaitu Pertanian Organik, Tehnik Produksi Gula Semut, Standar Keamanan Pangan, Penjaminan Mutu dengan ICS, Managemen Ekonomi Rumah Tangga dan sebagainya.

Beberapa pegiat gula semut akan menjadi narasumber pelatihan ini dantaranya yaitu Kukuh Haryadi S.P. MM (Pendamping Plut Jateng), Tutu Septiana, Ega Apriliana dan narasumber lain.

Dengan pelatihan tersebut diharapkan petani gula semut mempunyai kemampuan dalam pengelolaan usaha pertanian sehingga dapat meningkatkan produktifitasnya.
Jumat, 01 Maret 2019

Analisis Usaha Tani Penderes Gula Kelapa



Kabupaten Kebumen merupakan salah satu sentra produksi gula kelapa. Kurang lebih sekitar 20 ribu KK bermatapencaharian sebagai penderes kelapa. Produk yang dihasilkan dari tanaman kelapa yaitu berupa nira yang diolah menjadi gula semut maupun gula cetak. Analisis usaha tani merupakan kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Berdasarkan analisis usaha tani, berikut rincian anggaran pemasukan dan pengeluaran seorang penderes dalam melakukan kegiatan usaha gula kelapa;

Tabel 1. Biaya Tetap

Biaya tetap usaha gula kelapa yaitu sebesar Rp. 1.428.500,- (Tabel 1). Biaya tetap adalah biaya yang tidak berbeda seiring dengan adanya perubahan kuantitas pada unit produksi. Biaya tetap tergantung waktu, yaitu tetap konstan dalam suatu periode.  

Tabel 2. Biaya Variabel 

 Biaya variabel usaha gula kelapa yaitu sebesar 8.302.000,- (Tabel 2). Biaya variabel adalah biaya yang bervariasi seiring dengan perubahan pada jumlah unit produksi. Biaya variabel tergantung volume, yaitu berubah dengan adanya perubahan volume dan tetap konstan pada tiap unitnya. 


Tabel 3. Total Biaya 

Total biaya yang dibutuhkan dalam usaha gula kelapa yaitu sebesar Rp.9.730.500,- (Tabel 3). Pemasukan penderes dalam mengolah nira menjadi gula semut dan gula cetak memiliki keuntungan yang sangat berbeda. Setiap bulannya dengan menanam 30 pohon mampu menghasilkan gula sebanyak 225 kg/bulan. Apabila mengolah menjadi gula semut mampu mendapatkan pemasukan Rp. 43.200.000,-, sedangkan apabila diolah menjadi gula cetak mendapat penghasilan sebesar Rp.32.400.000,- dalam kurun waktu selama satu tahun (Tabel 4).
Tabel 4. Pendapatan Penderes 

Revenue cost ratio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Adapun kriteria hasil sebagai berikut:
  • R/C>1, berarti usaha sudah dijalankan dengan efisien ataupun menguntungkan.
  • R/C=1, berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas atau break event point.
  • R/C<1, berarti usaha tidak efisien dan tidak layak serta tidak menguntungkan
Tabel 5. Analisis Penderes Gula Kepala berdasarkan Analisis R/C

Berdasarkan analisis revenue cost ratio bahwa penderes kelapa memiliki nilai >1 yang memiliki nilai usaha yang efisien dan menguntungkan dalam mengolah nira menjadi suatu produk beruapa gula semut maupun gula cetak. Namun memiliki keuntungan yang sangat jauh berbeda, apabila diolah menjadi gula cetak dalam satu tahun dengan jumlah sebanyak 30 pohon yang dideres mampu menghasilkan laba sebesar Rp.22.669.500,-, sedangkan apabila diolah menjadi gula semut mampu menghasilkan laba sebesar Rp.33.469.500,-. Selisih antara gula semut dan gula cetak sangatlah jauh berbeda apabila penderes mengolah menjadi gula semut mampu meraup keuntungan yang lebih dibanding menjadi gula cetak dengan mencapai keuntungan lebih sebesar Rp.10.800.000,- dalam satu tahun produksi.  

Penulis: Ega Apriliana/Research and Development Agroberdikari